Ragam

Keterbatasan Dana, Ibu Bocah Penderita Tumor Ganas Asal Sangatta. “Tak Putus Asa”

Anjas bocah berusia 7 tahun asal kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur, kurang lebih 3 bulan menderita tumor ganas, upaya orangtuanya untuk menyembuhkannya. Selama beberapa bulan dirawat di RSUD Sangatta, hingga dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Ilustasi (tumor)

SANGATTA, Anjas bocah berusia 7 tahun asal kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur, kurang lebih 3 bulan menderita tumor ganas, upaya orangtuanya untuk menyembuhkannya. Selama beberapa bulan dirawat di RSUD Sangatta, hingga dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Menurut Ibunda anjar, Nur Jannah Hampir sebulan menjalani perawatan di RSUD Sangtta, ternyata kondisi Anjas tak kunjung membaik dan akhirnya tim dokter menyarankan ia untuk membawa anaknya ke RSUD Dr Soetomo di Surabaya karena peralatan disana terbilang cukup canggih.

“Sudah enam hari ini saya berada di Surabaya menemani anak saya yang sedang sakit, dan seorang keluarga saya,” kata Nur Janah, Ibunda dari Anjas, Minggu (21/9).

Dana pengobatan Anjar, kata dia, hanya menggunakan kartu BPJS. Dengan segela keterbatasan terutama masalah biaya, akhirnya ia berangkat ke Surabaya dengan menggunakan kapal laut.

“Namanya pakai BPJS harus nunggu dulu untuk untuk diperiksa kalau di Surabya sudah 6 hari kemarin naik kapal laut perginya kesini,” katanya.

Sementara itu, Mastia, salah seorang kerabat dari Anjas saat ditemui Tribun, Minggu (21/9) menuturkan penyakit yang diderita keponakannya itu sudah mulai dirasakan sebelum bulan Ramadhan kemarin, ketika itu timbul benjolan disekitar wajahnya, yang juga seringkali disertai rasa sakit.

Hanya dalam hitungan hari benjolan itu kemudian terus membesar dan hingga saat ini menutupi hampir sebagian besar wajahnya.

“Mau puasa kemarin mulai terasa penyakitnya langsung membesar dan berapa kali dirawat di rumah sakit di Sangatta ini,” katanya.

Bahkan Anjas yang sebenarnya sudah didaftarkan masuk SD pada tahun ini urung menempuh pendidikan, karena adanya penyakit tersebut, apalagi jika rasa sakit pada benjolan yang dideritanya kambuh ia sampai tak bisa makan dan hanya bergantung pada cairan infus.

Diakuinya biaya pengobatan Anjas memang ditanggung oleh BPJS, namun tentu saja tanggungan yang diberikan punya batas tertentu, ditambah lagi biaya hidup ibunya saat menunggu di Surabaya.

To Top