Peristiwa

Operasi Efisien Solusi Bagi Pertambangan

Peserta Workshop Strategic Management in Mining Operation berpose bersama usai kegiatan.

Sangatta,wartakutim.com – Inovasi dan improvement untuk mencapai efisiensi biaya, merupakan solusi yang paling rasional untuk menyelamatkan usaha pertambangan perusahaan batubara saat ini. Jika tidak mampu menekan ongkos produksi, dipastikan perusahaan tambang akan mengalami kesulitan dan bukan tidak mungkin akan berujung penutupan operasi.

Demikian benang merah hasil workshop yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) wilayah Kutai Timur, Sabtu (11/4), di Hotel Royal Victoria, Sangatta, Kutai Timur.

Workshop dengan tema Strategic Management in Mining Operation, menghadirkan Agus Dwi, Engineering Division Head PAMA Jakarta dan Hendrawan, General Manager  Business and Performance Improvement(GM BPID), PT Kaltim Prima Coal (KPC). Kedua pembicaraan sepakat, tak ada cara lain agar bertahan hidup, selain melakukan inovasi demi menghemat ongkos produksi pertambangan.

Agus Dwi mengatakan, ongkos produksi terbesar PAMA selama ini adalah pemakaian bahan bakar dan peralatan tambang seperti truck, shovel dan peralatan lainnya. Untuk menurunkan biaya dari dua komponen tersebut, dilakukan berbagai inovasi yang melibatkan seluruh karyawan.

“Yang pertama sekali adalah adanya kepedulian seluruh karyawan, bahwa kondisi perusahaan sedang menurun. Semua orang care dengan situasi itu dan berusaha mencari inovasi. Seluruh karyawan terlibat. Satu orang karyawan membawa dua ide perubahan untuk dibagikan kepada sesamanya,” kata Agus.

Agus lebih lanjut mengatakan, karyawan PAMA sendiri memiliki banyak gagaran dan inovasi menuju efisiensi. “Bagi karyawan yang memiliki inovasi baru dalam bidang teknologi menuju efisiensi biaya, kami fasilitasi untuk didaftarkan Hak Patennya. Cara ini meningkatkan motivasi dan inovasi para karyawan,” tutur Agus.

Senada dengan Agus, pembicara dari KPC Hendrawan mengatakan, inovasi penghematan biaya produksi telah dilakukan KPC sejak tahun 2008 lalu. Pada tahun tersebut, tren harga batubara mulai menurun, sementara harga minyak dan komponen biaya lainnya terus naik.

Menghantisipasi hal tersebut, KPC langsung membentuk Divisi Business and Performance Improvement, dengan tugas utama meningkatkan produktifitas alat dan karyawan serta menurunkan biaya operasional tambang. Improvement dilakukan terhadap peralatan tambang dan perubahan budaya kerja karyawan.

Sampai saat ini, program improvement di KPC telah berkembang dan menyentuh seluruh aspek kehidupan perusahaan. Hasilnya, KPC berhasil menurunkan stripping ratio (perbandingan bukaan tanah penutup dengan batubara) dari 11,9 menjadi 9. Selain itu, program ini berhasil menghemat biaya produksi tambang.

Ketua PERHAPI Kutai Timur Didik Mardiono mengatakan, harus ada inovasi yang luar biasa bagi perusahaan tambang agar bertahan hidup. Sebab margin keuntungan batubara semakin mepet. Hingga Sabtu itu, harga batubara acuan New Castle berada di kisaran 55 dollar AS per ton. Para pakar juga memperediksi, hingga tahun 2020 nanti, tren harga hanya berada di kisaran 52-58 dollar AS per ton.

Sementara pada sisi lain menurut Didik, perusahaan batubara terus ditekan dengan berbagai regulasi yang tidak menguntungkan. “Seperti kebijakan yang mengharuskan pembayaran royalty didepan dan keharusan pemakaian biodiesel,” kata Didik.

Didik berharap, seluruh stakeholder pertambangan bisa memahami kondisi pertambangan yang terus menurun dan bersama-sama mencari inovasi agar perusahaan pertambangan masih bisa bertahan.(*)

Click to comment
To Top