Peristiwa

Bupati Hadiri “Kung Kemul” Di Wahau

bupati saat menghadiri kegiatan kung kemul bersama tokoh adat setempat. (syahid humas)

SANGATTA- Kabupaten Kutai Timur (Kutim) merupakan daerah yang memiliki potensi pariwisata dan kebudayaan yang eksotis. Hanya saja hingga saat ini potensi keindahan ragam budaya tradisional yang dimiliki daerah ini belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas. Salah satunya potensi pariwisata di Kecamatan Muara Wahau. Kecamatan ini, tidak hanya memiliki keindahan hutan lindung Wehea yang sudah diakui dunia, namun juga mempunyai pesta adat dan budaya Lom Plai yang hingga kini masih terus dilestarikan oleh warga suku Dayak asli Wahea.

Pesta panen atau biasa disebut Lom Plai, merupakan sebuah ungkapan rasa syukur warga Dayak Wehea atas berkah yang telah dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa dalam bentuk panen berlimpah. Puncak acaranya biasa dilaksanakan di Desa Nehes Liah Bing (Slabing). Lom Plai juga bisa berarti usaha penyembuhan terhadap orang sakit. Ritual puncak ditutup dengan tarian bersama antara para penari Hudoq dengan ratusan warga yang menyaksikan dalam balutan pakaian adat Wehea.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengakui bahwa potensi besar dari pelaksanaan pesta ada dimaksud belum mendapat porsi promosi yang memadai. Oleh karena itu dia berharap seluruh elemen masyarakat termasuk juga para jurnalis untuk dapat berperan aktif lebih memperkenalkan kebudayaan asli Kutim ini. Permintaan Bupati ini disampaikan ketika membuka Musyawarah Besar (Mubes) III Persekutuan Kung Kemul Dayak Serumpun Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, di Desa Nehes Liah Bing atau Selabing.

“Saya kira sudah menjadi tugas seluruh stakeholder untuk dapat lebih mempromosikan Lom Plai dan jenis budaya lainnya. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan para jurnalis. Saya berharap media-media, membantu pemerintah mempromosikan dalam bentuk yang aspiratif,” harap Ardiansyah Sulaiman.

Pada kesempatan itu, didepan ribuan peserta mubes dan undangan, Bupati mengatakan, pertemuan kali ini bukan hanya melestarikan budaya, melainkan juga ajang temu kangen dari komunitas Kung Kemul yang sudah terpisah sejak puluhan bahkan ratusan tahun dibeberapa wilayah di Kalimantan Timur dan Utara. Selain itu dia berharap masyarakat pedalaman menambah tanggung jawab tidak hanya melestarikan budaya, namun juga pendidikan dan wajib belajar 12 tahun. Karena pendidikan dapat menyangga dan mengatarkan generasi selanjutnya agar dapat berkiprah dikemudian hari.

Bupati kutim simbolis menandatangani prasasti menandai dibukanya mubes kali ketiga ini. Didampaingi Dirjen Bina Aliran Sungai, Kehutanan dan Lingkungan Hidup Purwadi, Kapolres Kutim, tokoh-tokoh suku dayak, sejumlah Pimpinan SKPD, FKPD dilingkungan Pemkab Kutim, serta peserta mubes dan warga,
Sebelumnya, Kepala Adat Suku Wehea, Ledjie Taq juga berharap sama. Meminta dukungan Pemkab dan masyarakat lainnya untuk memperomosikan pesta adat Lom Plai ini. Sehingga semakin dikenal masyarakat luar dan menjadi potensi pariwisata.

Dia menjelaskan festival budaya Lom Play diadakan setiap tahun. Menurutnya masyarakat Wehea sangat luar biasa dan begitu mencintai budaya warisan leluhur. Kecintaan suku Dayak Wahea tidak sebatas pada kebudayaan, melainkan juga terhadap alam sekitar. Karena itu, Hutan Wehea dijadikan sebagai maskot dan kebanggaan untuk dijaga dan dilindungi. Ledji taq menyebut masyarakat Dayak Wehea tidak berani merusak bumi, tanah dan hutan beserta isinya serta makhluk yang hidup di atasnya. Bagi Masyarakat Dayak Wehea, sebelum mengambil sesuatu dari alam, harus ingat memberi sesaji kepada penunggu bumi dan penunggu hutan setempat, dengan maksud agar selama menggarap diberikan rejeki dan aman dari gangguan hama. Ini merupakan bagian dan cara warga setempat menghormati alam.

Sedangkan acara Kung Kemul merupakan salah satu usaha penyatuan visi dan misi budaya dalam satu kerukunan masyarakat suku dayak. Karena, katanya, warga Suku Dayak masih memegang teguh budaya, meskipun berjauhan wilayah. (hms6/hms7)

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: