OPINI

Politik Makan vs Puasa

imagesfrkuk,Opini OLEH = BONAR FUAD

Wartakutim.com…Di tahun ini, kita menyaksikan karnaval politik pemilihan kepala daerah yang sambung-menyambung dan sering menjadi sangat mencemaskan. Orang-orang bergegas, berpacu, bersiasat, dan bertikam-tikam untuk memenuhi keinginan tak terhingganya, yakni berkuasa. Inilah politik makan.

Kekuasaan dibeli dengan harga mahal dan dijadikan alat untuk berlaku kanibal. Label pemimpin direngkuh lewat berbagai strategi manipulasi. Spanduk dan baliho yang memuat foto para kandidat membanjiri jalan-jalan. Tapi, citra yang muncul nyatanya seragam.

Citra dalam adegan kanibalisme, mereka yang duduk di sisi kuali besar menyantap potongan tubuh rakyat yang basah dan melepuh.

Politik puasa adalah politik untuk berkuasa, untuk jadi pemimpin bagi diri masing-masing. Kekuasaan dan kepemimpinan atas diri sendiri hanya dapat diraih melalui kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran berpuasa. Relasinya pun menjadi vertikal dan horizontal.

Secara vertikal, kualitas puasa akan mendongkrak elektabilitas kekhalifahan seseorang di mata Tuhan. “Aku tidak dapat membiarkan perutku kenyang,” ujar Nabi Yusuf. “Ketika perutku kenyang, aku tidak dapat mendengar suara perut rakyatku yang lapar.” Inilah politik puasa, ikhtiar meraih predikat the chosen people dan wong agung di mata Tuhan.

Capaian prestasi vertikal itu akan menemukan tempat tumbuh di dalam sejarah manusia. Secara horizontal, kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran berpuasa menjadi derajat kenaikan yang kembali ke kehidupan nyata melalui skenario Tuhan yang penuh ketidakterdugaan.

Sirah para nabi dan kisah para pemimpin agung di setiap lapis masa menyebutkan hal itu. Bagi kita, pemimpin yang sederhana, tulus, dan jujur adalah mereka yang dirindui di 2014 nanti.

Click to comment
To Top