Berita Pilihan

Anak Sekolah Gunakan Kursi Jabuk

Kursi Jabuk

Sangatta, WARTAKUTIM.com – Meskipun anggaran Dinas Pendidikan banyak, namun pekerjaan melakukan pembenahan terutama melengkapi fasilitas sekolah seperti meja, kursi belajar, belum tuntas. seperti SMP I Sangkulirang, yang hingga kini masih gunakan meja dan kursi lapuk, yang sudah berumur 20 tahun.

Terkait masalah ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Iman Hidayat mengakui beberapa sekolah di Kutim hingga kini masih belum memadai sarana belajar mengajarnya seperti fasilitas bangku dan kursi belajar yang masih menggunakan bahan kayu dan berumur cukup tua seperti di Kecamatan Sangkulirang, tepatnya SMP Negeri 1 Sangkulirang.

Dijelaskan Iman, pihaknya sudah berkoordinasi kepada pihak sekolah yang ada bahwa fasilitas bangku dan kursi belajar tersebut akan segera diganti sesuai standar, namun tentunya bertahap. Saat ini Diknas hanya memiliki stok bangku dan kursi belajar untuk Sekolah Dasar (SD) sebanyak 890 set, SMA dan SMK ada stok 80 set dan untuk SMP cuma ada stok 48 set. “Saat ini sudah mulai memasuki masa pengadaan barang untuk 2016, dimana Disdik akan mendatangkan total 5.780 set bangku dan kursi belajar untuk SD hingga SMA. Sehingga dipastikan untuk SMP Negeri 1 Sangkulirang bakal kebagian jatah bangku dan kursi belajar yang baru,” katanya.

Diakui, dalam dua tahun kedepan, fasilitas bangku dan kursi belajar baru bisa terpenuhi. Dalam perhitungannnya total mebel yang dibutuhkan adalah 63.000 set dan saat ini baru terpenuhi sebanyak 32.000 set. Sedangkan di tahun ini pengadaan mebel ada sebanyak 6000 set mebel, sehingga masih kurang sekitar 20.000 set mebel lagi. Sementara dalam setahun paling banyak pihaknya melakukan pengadaan bangku dan kursi belajar sebanyak 12.000 set mebel yakni bangku dan kursi belajar.

Sekedar diketahui, adanya aduan masyarakat bahwa di SMP Negeri 1 Sangkulirang, saat ini 11 kelas masih menggunakan kursi dan meja belajar dari kayu yang sudah berumur lebih dari 20 tahun. Jika rusak, kursi dan meja ini akan diperbaiki secara swadaya oleh pihak sekolah dan dicat kembali agar tampak baru. Sedangkan bagi kursi yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi, guru-guru terpaksa patungan untuk membelikan kursi plastik agar murid tetap dapat beraktifitas belajar. Kondisi ini sudah bertahun-tahun dialami di sekolah tersebut. Bahkan lebih parah lagi ada sekolah yang siswanya harus belajar dengan cara melantai tanpa kursi dan bangku. (JN)

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: