Warta Parlementeria

Warga Bengalon Butuh Rumah Sakit, Pasar, Jembatan Untuk Hindari Buaya

Arfan2SANGATTA. Anggota DPRD Kutim asal Dapil III Arfan mengaku warga Bangalon, kini sangat membutuhkan Rumah Sakit (RS). Namun apa yang diperjuangkan selama bertahun-tahun selalu kandas karena masalah lahan. “Kebutuhan utama masyarakat Bengalon saat ini rumah sakit. Karena Bengalon ini kecamatan paling padat kedua penduduknya di Kutim, setelah Sangatta Utara, namun belum punya rumah sakit,” katanya.

Namun diakui, ke depan, mungkin harapan ini sudah akan bisa terwujud, karena selama ini memang belum ada anggota DPRD dari Bengalon, namun untuk periode 2014-2019, ada dua anggota DPRD dari Bengalon yang bisa perjuangkan, sehingga diharapkan akan ada hasil perjuangan masyarakat itu.

“Alasan selama ini karena tidak ada lahan. Saya mau hibahkan lahan, tapi terlalu jauh dari kota, jadi tidak layak. Ada juga tokoh masyarakat yang mau hibahkan lahan, tapi kasusnya sama, jauh dari kota. Jadi kami mengusahakan agar dalam anggaran tahun akan datang, ada dinas yang akan menganggarkan pengadaan lahan, apakah di Dinas kesehatan atau PU, kalau PU yang akan bangun rumah sakitnya,” katanya.

Diakui, yang buat sulit lahan untuk pembangunan RS di Bengalon karena butuh lahan sekitar 2 hektare. Karena itu, agak sulit bagi warga untuk menghibahkan lahan seluas itu di tengah kota. Jadi yang mungkin adalah membeli lahan, yang diperkirakan akan memakan biaya sekitar Rp3 miliar.

“Kalau Rumah Sakit ini bisa diwujudkan maka masyarakat Bengalon akan sangat gembira. Sebab ini adalah keingnan yang sudah lama diusulkan, tapi belum terwujud,” katanya.

Selain Rumah Sakit, kebutuhan lain yang diinginakn masyarakat di Bengalon adalah Pasar. Sebab pasar yang ada sekarang ini, sudah sangat sempit, karena itu perlu perbaikan. Namun pasar ini juga terkendala lahan. “kami ingin ada pasar seperti Pasar Induk. Namun juga terkendala lahan,” katanya.

Juga minta jembatan di muara Bengalon. Sebab sekarang ini sudah sulit masyarakat menyebrang di sungai karena buaya terlalu banyak. Hampir tiap bulan selalu ada korban buaya, meskipun tidak banyak terekpose.

“kami berharap, meskipun hanya jembatan gantung, tak masalah. Sebab dengan jembatan masyarakat tidak perlu menyebrang sungai, agar tidak jadi korban buaya lagi,” katanya.

Proyek lain yang diinginkan masyarakat adalah normalisasi sungai Bengalon, yang saat ini sudah dangkal. Dangkalnya sungai ini karena tambang, perkebunan. Makanya, karena anak sungai, sudah tertimbun semua, tidak ada lagi tempat buaya, karena itu semua buaya turun ke daerah sungai Bengalon. Karena itu menumpuk di Sungai Bengalon, makanya sekarang tidak sulit cari buaya. “Makanya pawang dengan mudah tangkap buaya hingga 51 ekor dalam tiga hari, karena buaya sudah banyak keluar dari anak sungai yang ditimbun perkebunan,” katanya. (ADV)

Click to comment
To Top