Berita Pilihan

Sejak Dibangun, Rumah Adat Di Kutim Masih Terlihat Mati Suri.

Disporapar Wacanakan Jadi Wisata Budaya

wisata-rumah-adat-di-kutim-mati-suriSANGATTA –Rumah adat yang berada  di lingkungan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kutai Timur  (Kutim) sejak dibangun hingga saat ini masih terlihat mati suri. Pasalnya, tujuh rumah adat tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya dan sebagaimana adanya. Kalaupun difungsikan, hanya dijadikan sebagai wadah kegiatan dan pastinya tidak sesuai dengan tujuan awalnya yakni untuk memperkenalkan beberapa rumah adat di indonesia kepada seluruh masyarakat Kutim.

Melihat keganjilan itu, maka pihaknya berencana akan menjadikan  rumah adat sebagai lokasi wisata umum dan pendidikan. Yang nantinya diperuntukkan semua kalangan. Baik orang tua, dewasa, remaja hingga anak-anak.”Sangat sayang sekali tidak dimanfaatkan. Makanya kedepan kita akan jadikan wadah wisata bagi masyarakat lokal, nasional hingga mancanegara. Itu mimpi kita,”ujar Kadisporapar Dwi didampingi Kepala Bidang Pariwisata Imransyah, Jumat (20/11) kemarin.

Cukup mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam jangka pendek, pihaknya hanya memerlukan beberapa kebutuhan perlengkapan untuk mengisi masing-masing rumah adat. Mulai dari perlengkapan baju dan celana khas adat daerah masing-masing, budaya, makanan, dan semua hal yang berhubungan dengan identitas suku yang ada di Indonesia.”Kalau rumah adatnya kan sudah ada. Tinggal isinya saja lagi. Kalau ada, maka dengan mudah kita perkenalkan secara langsung kepada pengunjung khususnya wisatawan lokal yang belum sepenuhnya mengetahui adat, budaya daerah lain,”katanya.

Agar lebih ideal lagi, maka semua sarana dan prasarana dilingkungan rumah adat dapat dipenuhi secara keseluruhan. Karena untuk saat ini, dari beberapa rumah adat yang ada diindonesia, baru tujuh rumah yang dibuatkan. Seperti rumah adat Kutai Melayu, Elit Kutai, Banjar, NTT, Jawa, Bugis dan Toraja saja, sedangkan untuk adat Dayak, Minang dan lainnya belum dibangunkan.

Belum lagi, pembangunan pusat informasi wisata, Gazebo, Pujasera, Tribun, Sanggar Seni Ukir, Sanggar Seni Tari, Stage Pertunjukan, dan beberapa kebutuhan lainnya.”Sebenarnya ini semua sudah ada konsepnya. Dari beberapa perencanaan itu, hanya tujuh rumah adat saja yang baru direalisasikan. Selebihnya belum ada. Padahal jika ini semua bisa dibangunkan sesuai dengan perencanaan awal, maka lokasi ini akan sangat menjanjikan sekali,”katanya.

Padahal katanya, niat baik tersebut sudah beberapa kali di usulkan untuk meneruskan pembangunannya. Namun setiap kali masuk dalam permohonan, tak satupun yang berhasil  dikabulkan. Tentu hal ini sangat disayangkan. Karena besarnya potensi terlewatkan begitu saja tanpa ada hasil yang didapatkan.”Kita sudah usaha tetapi belum terkabul. Mudahan saja, niat ini dapat direalisasikan sehingga wisata rumah adat ini dapat terwujud sesuai dengan harapan,”harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Panji (29) salah seorang warga Sangatta Utara mendukung penuh hal tersebut. Katanya, dari pada mati suri dan tidak bernilai, baik kiranya dijadikan tempat wisata pendidikan bagi anak-anak.Karena dirinya menyakini bahwa tidak semua masyarakat tau tentang budaya dan adat istiadat masing-masing daerah terlebih anak-anak sekolah.”Kalau malam gelap. Siang dijadikan kantin. Kalau ada acara hanya dijadikan tempat singgah saja. Ini tentunya sangat sia-sia pembangunan rumah adat yang kita cintai  itu. Untuk itu dimanfaatkan sebaik mungkin,”harapnya.( dy)

Sumber : Procal.co

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: