OPINI

Konflik Air, Masyarakat Dan KIPI Maloy

Oleh : Irwan Ridwan,

Hari ini, Kamis (3/3/2016), tepatnya pagi tadi telah dilaksanakan rapat koordinasi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan atau yang biasa disingkat KEK-MBTK di Kantor Bupati Kutai Timur yang mana dipimpin langsung oleh Bupati terpilih bapak Ir. Ismunandar, MT. Langkah luar biasa dari beliau yang langsung tancap gas untuk mengajak provinsi dan pusat merealisasikan pembangunan KIPI Maloy sesuai rencana.

Seperti diketahui dalam RPJMD Kaltim 2013-2018, Maloy merupakan salah satu kawasan strategis ekonomi di Kalimantan Timur. Dimana dalam dokumen tersebut disampaikan bahwa Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Maloy terletak di Kecamatan Kaliorang dan Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur, dengan luas areal 5.305 Ha.

Berdasarkan Inpres Nomor 1 tahun 2010 dan dokumen Masterplan Perluasan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), KIPI Maloy diarahkan untuk menjadi pusat pengolahan kelapa sawit, oleochemical, dan industri turunannya. Berdasarkan Masterplan 2012, tahap awal pembangunan KIPI Maloy seluas areal 1.000 Ha dengan nilai investasi sebesar 3,7 trilyun rupiah. KIPI Maloy terdiri dari 6 (enam) zona industry. Disamping itu KIPI Maloy akan terintegrasi dengan Tanki Timbun dan Pelabuhan Internasional CPO (Crude Palm Oil) yang dioperasionalkan dengan sistem pemipaan. Selain itu, sebagai strategi untuk menambah nilai investasi, KIPI Maloy telah diusulkan untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pada tahun 2030, KIPI Maloy diproyeksikan menjadi pusat/sentra pengolahan oleo chemical berskala internasional yang mencakup industri hulu (primer) dan industri hilir (sekunder dan tersier).

Gambar 1Dengan menjadi kawasan ekonomi khusus provinsi Kaltim dan Nasional maka tentu program ini harus didukung penuh oleh semua pihak tak terkecuali masyarakat Kutai Timur sebagai tuan rumah kawasan strategis ini dalam hal ini khususnya masyarakat Sangkulirang dan Kaliorang yang mana dua kecamatan ini adalah pemangku wilayah kecamatan zona pengembangan kawasan industri dan pelabuhan internasional nantinya.

Namun ada isu yang menarik yang harus dicermati semua pihak terutama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terkait pengembangan KIPI Maloy ini. Dimana selama ini selalu saja program pembangunan akan selalu berdampak pada masyarakat disekitar rencana lokasi pembangunan. Melihat masterplan perencanaan penyediaan air bersih, air baku maupun air kotor KIPI Maloy kedepannya oleh Pemerintah Provinsi Kaltim maka saya hampir memastikan akan ada konflik social antara masyarakat dengan KIPI Maloy kedepannya terkait dengan pemanfaatan air.

(BACA : Kipi Maloy Mendapatkan Guyuran Dana Rp 177 M Dari Pemprov)

Saya tidak ingin terlalu dalam membahasnya hanya mengupas permukaannya saja, karena menurut saya ini harus disampaikan agar kedepan tidak terjadi penyesalan dan kerugian biaya akibat pembangunan yang dilaksanakan tanpa melalui kajian mendalam. Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara tapi ingat disisi lain Undang-Undang melengkapinya dengan pernyataan tegas bahwa itu dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan data di lapangan bahwa masyarakat Bengalon, Kaliorang dan Sangkulirang selama ini belum menikmati pelayanan dari pemerintah terkait air bersih belum lagi kebutuhan air terhadap kondisi eksisting pemanfaatan ruang selama ini di masyarakat untuk pertanian, peternakan, perkebunan ataupun kebutuhan rumah tangga. Jika kondisi diatas dihubungkan dengan masterplan perencanaan penyediaan air bersih, air baku maupun air kotor KIPI Maloy maka akan ada konflik yang serius terkait pemanfaatan air kedepannya (lihat gambar).

gambar 2Dengan kebutuhan air KIPI Maloy sesuai gambar diatas 1500 liter/detik (Bendungan Kaliorang 500 liter/detik, Sistem Selangkau 500 liter/detik dan Sistem Sekerat 500 liter/detik) maka hampir dipastikan akan benturan dengan kebutuhan air masyarakat di tiga kecamatan ini. Mengingat ketersediaan air di pegunungan sekerat juga cukup terbatas apalagi di musim kemarau panjang. Itu ditandai dengan sangat rendahnya debit air diberbagai sungai di Karst Sekerat seperti Sungai Sekerat, Mampang, Selangkau, Jepu-Jepu dan Kaliorang.

KIPI Maloy adalah sesuatu yang ditunggu dan dinantikan masyarakat karena pastinya akan berdampak positif terhadap masa depan ekonomi mereka namun alangkah bijaknya jika dalam perencanaannya tidak kemudian mengabaikan hak-hak dasar mereka yang selama ini bahkan belum pernah dinikmati oleh mereka. Akan lebih baik jika KIPI Maloy mencari sumber daya air yang lain semisal program desalinasi atau mengambil air bersih dari tampungan eks galian tambang yang sudah diolah menjadi air bersih. Sangat disayangkan untuk sebuh program pembangunan nasional tapi kajian pemnfaatan airnya terkesan dipaksakan untuk direalisasikan.

Persingkat tulisan maka dalam kesempatan ini saya dengan tegas mengatakan TOLAK PERENCANAAN PENYEDIAAN AIR BERSIH KIPI MALOY DARI KARST SEKERAT.

Terimakasih atas perhatian, saya ingin mengutip kata-kata sederhana tapi bermakna besar dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “Hidup itu sungguh sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya”. Dan saya ingin dunia tahu tujuan hidup saya juga sederhana. Saya hanya ingin Rakyat Bahagia.

irwanridwan.com

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: