Berita Pilihan

Hasil Plasma Hanya Rp 130 Ribu Perbulan, Petani Jual Lahan ke Wabup

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang

SANGATTA. Wakil Bupati Kutai Timur Kasmidi Bulang mempertanyakan pada Dinas Perkebunan akan kebenaran hasil kebun plasma 15 warga, yang menyerahkan copy sertifikat tanah mereka, yang dijadikan sebagai kebun plasma oleh PT Gunta Samba, namun hanya menghasilkan Rp400 ribu / 3 bulan.

“Saya mau tanya Dinas perkebunan, mengapa hasilnya seperti itu? Warga mengeluh, katanya, sebelum lahan mereka dijadikan kebun plasma, meskipun hanya menanam Lombok, tomat, tiap bulan masih hasilkan uang Rp1 juta minimal, namun setelah jadi kebun plasma, hanya terima Rp400 ribu per tiga bulan,” kata Kasmidi dalam kegiatan Coffe Morning Kemarin.

Hal ini disampaikan politisi Partai Golkar ini karena ada puluhan warga Desa Rapak Bumi Jaya Kecamatan Kaliorang, Senin (25/4) mendatangi Kantor Bupati untuk bertemu dengan Wakil Bupati (Wabup) Kutai Timur (Kutim) Kasmidi Bulang,

Warga berkeluh kesah kepada wabup Kasmin tentang perusahaan Pt. PT Gunta Samba yang menguasai lahan mereka, hanya menerima hasil plasma sebasar hanya Rp400 ribu per tiga bulan, sehingga warga ingin menjual kebun plasma milik ke wabup Kutim

Menanggapi pertanyaan wabup Kasmidi, Sekertaris Dinas Perkebunan Prayitno mengatakan, belum mengetahui masalah tersebut, namun tentu ia akan mempertanyakan pada koperasi mitra perkebunan itu. Karena koperasi lainnya, yang bermitra dengan perusahan lain, rata-rata petani menerima Rp1 juta per hektar per bulan.

“kami akan cek dulu mengapa seperti itu. Karena kalau memang benar, itu tidak ideal,” katanya.

Ditemui usai acara Coffe Morning, Kasmidi mengatakan, permasalahan plasma seperti ini sebenarnya sudah cukup lama. Namun jika terus didiamkan akan menjadi bola es yang bisa berdampak pada masyarakat lainnya. Terlebih bukan hanya 20 orang warga desa Rapak Bumi Jaya saja yang ingin menjual plasma milik mereka, namun mhampir semua warga di desa tersebut juga memiliki niat yang sama.

“Dikhawatirkan jika kejadian ini berimbas pada ketidakpercayaan warga terhadap perkebunan plasma sehingga mereka berbondong-bondong menolak plasma,” katanya.

Click to comment
To Top