Politik

Kader Golkar Kaltim ke Jakarta, Minta Azis Syamsudin Dicoret Jadi Caketum

13184764_10209473067413615_83534462_oSamarindara,wartakutim.com – Reaksi keras dari Kader Golkar Kalimantan Timur terhadap diloloskannya Azis Syamsudin sebagai Calon Ketua Umum Partai Golkar, bertambah lagi. Setelah sebelumnya diprotes H Arifuddin SH, mantan Ketua Biro Hukum DPD Partai Golkar Kaltim, tanggapan lain datang dari Amir P Ali, Ketua Poros Muda Penyelamat Partai Golkar Kaltim.

Surat protes disampaikan Poros Muda Penyelamat Partai Golkar Kaltim hari ini, Senin (9/5/2016), pukul 15.15 WIB di DPP Partai Golkar Jakarta. Amir dan rombongan menyerahkan laporan tersebut dan telah diterima oleh Tim Verifikasi Kepesertaan Munas Erwin Ricardo Silalahi dan Erwin Aksa, Koordinator Wilayah Kaltim.

“Kita serahkan ke Tim Verifikasi Kepesertaan Munaslub dulu. Kalau memang diperlukan kita terus ke Mahkamah Partai,” ucap Amir P Ali kepada beritakaltim.com, Senin sore.

Amir dan kawan-kawannya meminta agar Azis dicoret sebagai Caketum. Wakil Ketua DPP Partai Golkar dinilai tidak pantas menjadi kandidat ketua umum karena dinilai keduanya memiliki catatan merah, melanggar AD/ART partai.

Sebelumnya, protes datang dari H Arifuddin yang menjadi pengurus Golkar Kaltim periode 2011-2016 era ketua Mukmin Faisyal. Versi Arifuddin, Azis telah bertindak tidak etis, bahkan melanggar AD/ART Partai Golkar, saat Pilkada serentak yang berlangsung di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2015 lalu.

Arifuddin yang juga  Wakil Ketua SOKSI Kaltim menceritakan kronologi kejadian dimulai saat tahapan Pilkada berlangsung. Ketika itu Partai Golkar secara resmi mengusung pasangan Idham Khalid dan Abdul Kadir sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar).

Pasangan tersebut mendapat surat rekomendasi yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Aburizal Bakrie dan Sekretaris Jenderal Idrus Marham. Kemudian mendapat restu kubu Agung Laksono sehingga KPU (Komisi  Pemilihan Umum) Kukar meloloskan sebagai peserta Pemilukada tahun 2015 lalu.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kukar Rita Widyasari juga maju menjadi Calon Bupati menggunakan jalur independen bersama pasangannya Edi Damansyah. Keputusan Rita-Edi maju dari jalur independen karena terjadinya konflik di partai beringin yang berbuntut dualisme kepemimpinan di tingkat pusat antara kubu ARB dan Agung Laksono.

Ironisnya, kata Arifuddin didampingi kader-kader Golkar lainnya, pengurus Golkar pusat Idrus Marham dan Azis Syamsudin selaku pengusung pasangan calon Golkar Idham Khalid-Abdul Kadir, justru membiarkan keduanya berjuang sendirian. Tidak ada pertanggungjawaban administrasi maupun moral bahwa Golkar adalah partai yang mengusung mereka dalam Pilkada Kukar.

“Pasangan yang diusung Golkar itu resminya Idham Khalid dan Abdul Kadir. Tapi, Azis Syamsuddin dan Idrus Marham datang kampanye untuk Rita Widyasari yang dalam pencalonan itu dari jalur independen. Ini namanya apa?” ungkit Arifuddin, kesal.

Tindakan Azis Syamsudin dan Idrus Marham, menurut kader Golkar Kaltim itu, selain tidak etis dan melukai hati kader-kader Golkar, juga memberikan pelajaran politik yang buruk. Apalagi, Partai Golkar adalah pemenang Pemilu di Kaltim.

“Menurut saya, keduanya perlu diadili ke Mahkamah Partai karena tindakan mereka tercela. Sudah inskonstitusional. Itu melanggar peraturan partai,” ujar Wakil Ketua SOKSI Kaltim yang juga adalah organisasi mendirikan Golkar.

Azis Syamsudin maupun Idrus Marham belum memberikan jawaban atas kebenaran kehadiran mereka pada kampanye Rita Widyasari yang maju dari jalur independen dan membiarkan calon resmi Golkar Idham Khalid dan Abdul Kadir berjuang sendirian. Namun ketika dicari jejak berita kampanye Rita-Edi melalui fasilitas google, sejumlah berita di media online memastikan kebenaran tudingan itu.

Media-media online menurunkan berita tentang kehadiran 2 tokoh DPP Golkar itu. Keduanya hadir pada saat kampanye akbar Rita Widyasari – Edi Damansyah di halaman parkir Stadion Rondong Demang Tenggarong, Rabu (25/11/2015) siang. Pada kesempatan itu, Idrus Marham dan Azis Syamsudin berorasi agar masyarakat memilih Rita Widyasari.

“Kader Golkar yang seperti itu sebaiknya dicoret sebagai Caketum,” ujar Arifuddin menutup komentarinya.

Click to comment
To Top