Profil

Mengenang Tokoh Pejuang Otonomi Daerah H Syaukani HR

Tiga Prinsip Hidup

Syaukani400

H Syaukani HR, pria kelahiran Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur 11 Nopember 1948, itu memiliki tiga filosofi atau prinsip hidup yang selalu diupayakan terimplementasi dalam keseharian kepemimpinannya. Pertama, hidup seperti lilin. Rela berkorban (meleleh) demi menerangi sekitarnya. Artinya, harus berani berkorban demi kepentingan yang lebih besar, berguna bagi orang lain. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain demi kepentingan sesama.

Kedua, hidup seperti batu karang. Setiap saat dihantam ombak, namun tetap teguh. Tetap tenang walaupun berbagai cobaan dan tantangan menerpa. Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan dan menjadi tempat perlindungan bagi makhluk lain dalam ekosistemnya.

Ketiga, hidup seperti lebah. Selalu kompak, menghasilkan madu, tidak mengganggu jika tidak diganggu. Prinsip kekompakan, kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Perihal kekompakan ini, Syaukani mengutip Jenderal Sudirman yang mengatakan, kemenangan tidak mungkin dicapai tanpa adanya kekuatan. Salah satu faktor yang menentukan kekuatan adalah kekompakan, kebersamaan dan kesatuan. Kekuatan tidak akan mungkin tercapai apabila tidak ada kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Prinsip ini selalu dipedomaninya dalam hidup bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.

Ketiga prinsip ini cukup menggambarkan totalitas dan kapasitas kepemimpinannya. Hal mana dia dengan bening dan berani mau dan mampu mengartikulasikan ketiga prinsip itu secara jitu dalam menjawab realita multidimensi penderitaan dan harapan masyarakat sekitarnya secara keseluruhan. Sekaligus menunjukkan keberaniannya menjadi personifikasi dari ketiga prinsip itu. Dan dalam takaran tertentu, dia telah teruji dalam implementasi dan bersedia membayar harga (berkorban) demi menegakkan prinsip itu.

Baginya, ketiga prinsip, seperti lilin, batu karang dan lebah itu, bukanlah slogan kosong yang hanya enak didengar dan indah dipajang di dinding. Tetapi suatu prinsip yang harus diimplementasikan dengan penuh integritas, dalam keselarasan kata dan perbuatan, penuh keberanian, kecerdasan dan ketulusan hati. Dengan demikianlah dia mampu merumuskan realita multidimensi kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara secara akurat, di dalam konsep Gerbang Dayaku, untuk menjemput masa depan Kutai yang lebih baik. Konsep yang hanya lahir dari seorang pemimpin visioner, pemimpin yang punya visi besar, bening dan berani (great, clear and bold vision).

Masa depan Kutai, yang sebelumnya -ditawan- oleh sistem sentralistik pemerintahan serta ketidakcerdasan dan ketidakberanian pendahulunya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Kutai dalam visi dan misi yang jelas dan implementatif. Lalu, ketika reformasi bergulir, dia pun terpilih menjabat Bupati Kukar, 14 Oktober 1999 “(Kesempatan yang sebelumnya tertutup baginya. Sebab dia sejak 1992 sudah diusulkan berbagai elemen masyarakat Kutai untuk menjabat bupati, tetapi selalu dikandaskan oleh sistem politik, yang disebutnya demokrasi semu, kala itu)” dia pun menggunakan kesempatan itu dengan gagasan, visi dan misi cemerlang yang dirumuskan dalam Gerbang Dayaku.

Baca Selanjutnya Disini >>>> Halaman 3

Laman: 1 2 3 4

1 Comment
To Top