Profil

Mengenang Tokoh Pejuang Otonomi Daerah H Syaukani HR

Cerdas dan Berani

Awang Faroek Ishak saat menjenguk Syaukani HR (foto : majalahberitakutaikartanegara.blogspot.com)

Dia adalah bupati yang dengan cerdas dan berani mengoptimalkan peluang otonomi daerah demi mengakselerasi pembangunan daerahnya. Kendati pada awalnya mendapat tantangan dan cemoohan, dia teguh laksana batu karang, karena yakin atas apa yang dilakukannya adalah demi kemajuan dan kemakmuran daerahnya.

Seperti, tatkala lulusan doktor (S3) dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ini menguruk delta, pulau Kumala, di tengah Sungai Mahakam di kota Tenggarong. Tadinya delta itu terlihat seperti mengambang dan dipenuhi semak belukar yang hanya dihuni kera dan binatang lainnya. Tak kurang dari sejuta setengah kubik pasir dia masukkan ke sana. Kala itu, dia disebut orang gila, mau menenggelamkan pulau, dan merusak lingkungan.

Tapi setelah pulau seluas 76 hektar itu diuruk dan dibangun menjadi Pulau Wisata Kumala, orang yang melihatnya menjadi terkagum-kagum. Pulau wisata ini direncanakan akan dirampungkan pembangunannya dengan biaya ratusan milyar rupiah. Di situ ada Patung Lembuswana ukuran raksasa yang indah karya pematung terkenal Nyoman Nuarta, juga dilengkapi fasilitas wisata yang tidak kalah dengan fasilitas objek wisata lainnya, seperti Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Juga dibangun menara setinggi 80 meter, seperti Monas, untuk bisa menatap pemandangan seluruh pulau. Juga ada kereta gantung (sky lift) sepanjang 1.300 meter yang membentang di atas pulau. Bahkan resor modern pun ada di tengah pulau itu.

Berdekatan dengan Pulau Kumala itu, dibangun juga jembatan berdesain indah, bak Golden Gate di San Fransisco, yang membentang sepanjang 712 meter di atas Sungai Mahakam. Pada malam hari, pulau dan jembatan serta jalan di sekitarnya itu bertaburan cahaya terang benderang warna-warni menyuguhkan pemandangan amat indah. Pulau dan jembatan itu menjadi landmark Kutai Kartanegara, yang pada tahun 2010 ditargetkannya akan makin bersinar, yang disebutnya 2010 Kutai Bersinar, menuju Kutai Emas.

Keberaniannya melakukan sesuatu, yang semula tak pernah terpikirkan oleh banyak orang, bahkan oleh para pendahulunya, membuat nama Tenggarong dan Kutai Kartanegara melejit bagai satelit yang mengorbit di angkasa raya. Menjadi pusat perhatian dan pembicaraan banyak orang. Publikasi tentang Kutai Kartanegara pun menghiasi berbagai media yang membuat sinar keberhasilannya makin terpandang dari jauh, menembus ruang dan waktu.

Syaukani, seorang pemimpin modern yang sangat memahami arti informasi, komunikasi dan publikasi. Dia sangat menyadari, suatu visi harus jelas, komunikatif, menarik perhatian, sederhana dan mudah diingat, merefleksikan keunikan, sesuai dengan harapan dan keinginan banyak orang, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sebagian besar orang, mampu memberi makna dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memotivasi, memberikan rasa bangga, membuat orang bersedia berkorban dan diyakini dapat dicapai.

Slogan, siapa menguasai informasi, dia menguasai dunia, sungguh dapat diraih dan diimplementasikan untuk menyosialisasikan dan mewujudkan visi dan konsepnya. Secara sadar, dengan kecerdasan intelektualnya, dia berusaha membangun image dan citra Kutai Kartanegara sebagai daerah tujuan wisata, untuk kelak tidak hanya mengandalkan kekayaan alamnya, terutama minyak, gas bumi dan batubara yang akan ada masa habisnya. Dia berobsesi menjadikan Kutai Kartanegara setara dengan Bali, demi kemakmuran masyarakatnya. Jika Indonesia dikenal dengan Bali, setidaknya Kalimantan dikenal dengan Kutai Kartanegara, Kutai Emas.

Itulah yang ingin dia capai dengan membangun berbagai infrastruktur pendukungnya serta menggalang informasi, komunikasi dan publikasi itu. Bukan semata-mata untuk mencari pupularitas pribadinya. Bahkan sangat sulit dia diyakinkan untuk bersedia menguraikan profil perjalanan hidupnya. “Perjalanan hidup saya biasa saja, seperti dialami semua orang. Lebih baik Anda melihat langsung apa yang kami lakukan di Kutai Kartanegara,” katanya Seperti dikutip dari situs tokohindonesia.com

Karya-karyanya, serta suara masyarakat Kutai dan para kerabatnya, memang lebih bercerita tentang siapa H Syaukani HR. Setelah mengunjungi Kukar selama lima hari penuh, Tim wartawan Tokoh Indonesia, mengapresiasinya sebagai seorang pemimpin yang memiliki kapasitas kepemimpinan nasional, jauh melebihi tantangan tugasnya sebagai bupati, seperti diuraikan dalam lead artikel ini.

Pantas saja masyarakat Kutai Kartanegara berdemo dan mogok hampir dua bulan lamanya menolak penggantiannya secara mendadak oleh Mendagri tanpa lebih dulu memberitahukan kepada DPRD dan kepadanya, November 2004. Masyarakat Kutai Kartanegara berdemo bak lebah saat mereka diusyik dengan mengganti pimpinan yang mereka idamkan.

Akibat perlawanan masyarakat itu, Syaukani malah dituduh mendalangi demo itu bahkan dituduh melakukan korupsi. Tuduhan yang ternyata tidak terbukti. Kendati akhirnya, ia diganti sesuai ketentuan menjelang Pilkada Bupati, masyarakat Kutai Kartanegara kemudian membuktikan pilihannya. Pada Pilkada Bupati pertama secara langsung di Indonesia itu, pasangan Syaukani HR dengan Samsuri Aspar meraih suara mutlak lebih 60 persen, mengungguli dua pasangan pesaingnya. Rakyat menentukan pilihannya, kendati pada saat kampanye Syaukani dihujani black campaign luar biasa buruk. Selengkapnya baca: Pemimpin Seteguh Batu Karang.

Suara rakyat telah bergema melalui pilihannya. Jika pada periode pertama sebagai Bupati Kartanegara, Syaukani dipilih melalui Sidang Paripurna DPRD, pada periode kedua, dia dipilih langsung rakyat melalui Pilkada 1 Juni 2005. Hal ini sekaligus pembuktian, bahwa apa yang dilakukannya mendapat dukungan mutlak dari masyarakatnya. Sehingga masyarakat memberi kesempatan melanjutkan program-program Gerbang Dayaku Tahap II yang telah disetujui DPRD.

Sesungguhnya sudah sejak awal tahun 1990-an masyarakat Kutai mengharapkannya menjadi bupati. Pada tahun 1992, dia sudah didaulat berbagai elemen masyarakat dan empat fraksi DPRD Kutai untuk menjadi bupati. Tapi karena sistem demokrasi semu kala itu, namanya dicoret dari daftar calon untuk memenangkan calon yang diinginkan Gubernur dan Pusat. Sejumlah anggota DPRD memboikot, tidak menghadiri sidang pemilihan, sehingga tidak memenuhi qorum. Namun pemilihan tetap dilangsungkan, walau kemudian dibatalkan.

Syaukani, dengan kepemimpin-nya yang kala itu menjabat Kadispenda Kutai merangkap Ketua DPD
Golkar Kutai, bersedia mundur dua langkah, menganjurkan para anggota DPRD itu bersedia menghadiri pemilihan bupati ulang. Sejak itu, dia makin intens dalam dunia politik dan pendidikan. Kemudian setelah reformasi, tepatnya 14 Oktober 1999, dia terpilih menjadi Bupati Kutai Kartanegara (1999-2004), setelah sempat menjabat Ketua DPRD Kutai Kartanegara. Masih dua tahun menjabat bupati, berbagai elemen masyarakat Kalimantan Timur mendaulatnya untuk bersedia dicalonkan menjadi Gubernur Kaltim. Tawaran ini tidak serta-merta diterimanya. Dia bahkan menolak dengan alasan, dia baru saja menerima amanah dari rakyat daerah kelahirannnya, Kukar.

Saat ini, dalam periode kedua menjabat Bupati, berbagai elemen masyarakat sudah memintanya lagi untuk bersedia dicalonkan menjadi Gubernur Kaltim pada Pilkada 2008 nanti. Ketua DPD Partai
Golkar Kaltim ini mensyukuri keinginan masyarakat Kaltim itu. Dia bukan pemimpin yang munafik. Namun sekali lagi, dia harus membuktikan dulu karyanya di Kukar sampai 2008. Jika kemajuan daerahnya signifikan dan sesuai dengan harapan masyarakat, dia baru bersedia dicalonkan. Jika tidak, dia lebih memilih meneruskan masa jabatannya sebagai bupati sampai 2010.

Baca Selanjutnya Disini >>>> Halaman 3

Laman: 1 2 3 4

1 Comment
To Top