Profil

Mengenang Tokoh Pejuang Otonomi Daerah H Syaukani HR

Pemimpin yang Merakyat

Syaukani dan kerabat dekatnya berkumpul di rumah almarhum ibunda Syaukani yang berada di Jalan Danau Jempang usai berziarah ke makam orang tuanya (foto : majalahberitakutaikartanegara.blogspot.com)

Gaya kepemimpinan yang me-rakyat membuat pupularitasnya demikian tinggi di tengah masyarakat. Kepemimpinan yang merakyat itu lahir dari mata batin dan kata hatinya yang paling dalam. Bukan dibuat-buat seperti dilakukan beberapa pemimpin dewasa ini. Melainkan lahir dari dalam dirinya yang berproses sejak masa kecil di bawah asuhan ibundanya. Pada usia tiga tahun, ayahandanya telah berpulang. Sejak itu, ia diasuh ibu dan neneknya dengan kasih sayang, ketulusan berkorban, kemandirian dan kebersamaan.

Pengasuhan ibunya, serta keuletan mengasah diri sendiri (long life education) membuat mata batin, mata hati, mata budi, mata spiritualnya fungsional, yang ditandai dengan moralitas, integritas dan karakter yang relatif tak tercela (walaupun sebagai manusia, tentu dia tidak sempurna, pasti punya kekurangan manusiawi). Semua itu membuatnya mau dan mampu melihat dan mendengar dengan melibatkan diri secara total (mata, telinga, pikiran, hati dan perasaan) dengan segala konsekuensinya, di antaranya, kesiapannya menerima tamu, siapa pun dan mendengar keluhan dan harapannya. Dia tidak hanya mendengar secara ragawi, tetapi mendengar dengan hati dan akal budinya (empathic listening).

Proses pengasuhan Sang Bunda itu telah mengasah kepedulian dan kebersamaannya dengan rakyat kecil. Gaya kepemimpin-an yang merakyat ini, tercermin sangat kasat mata dari cara bagaimana dia melayani setiap tamu yang ingin bertemu dengannya. Di tengah kesibukan dan mobilitasnya yang terbilang tinggi, dengan berbagai jabatan dan kegiatan yang diembannya, Syaukani selalu dengan ramah melayani siapa saja, tanpa mem-bedakan status dan latarbelakang orang yang ingin menemuinya.

Di mana saja dia berada selalu mau menerima siapa saja, sepanjang dia memiliki waktu. Bahkan tak jarang dia langsung mendatangi tamu yang ingin bertemu dengannya. Seperti tatkala Tim
wartawan Tokoh Indonesia dan beberapa tamu lainnya menginap di Hotel Singgasana, Tenggarong, Syaukani malah memilih datang menghampiri setiap tamunya di hotel itu. Secara bergilir dilayani satu persatu, dengan keakraban yang sama. Tak pilih kasih, apakah seseorang itu datang untuk kepentingan pribadi atau bisnis apalagi untuk kepentingan dinas atau kepentingan umum.

Dia pemimpin yang secara total mengerahkan segala yang dimiliki demi tugas pengabdian-nya. Dia sungguh menganut prinsip hidup seperti lilin, yang memberi penerangan atas kegelapan, kendati dia sendiri harus meleleh. Dia seperti tidak kenal lelah dengan mobilitas dan kepebulian yang amat tinggi.

Dia juga pemimpin yang berwawasan kebangsaan. Seorang muslim yang taat dan tak membedakan siapa pun oleh faktor agama, suku dan golongan. Syaukani yang boleh dibilang seorang pejuang otonomi daerah, memimpin Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) periode 2000-2004, bahkan sangat menyesali sebagian pemimpin daerah lain yang menerjemahkan otonomi daerah dengan pemahaman sempit, seperti mengangkat pejabat harus putera asli daerah.

Menurutnya, otonomi itu harus diartikan luas, seperti misalnya pengertian putera bangsa. Putra bangsa itu siapa pun dia, dari mana pun dia, suku apa pun dia, agama apa pun dia, kalau dia berbakti, berkorban, berjuang untuk negara dia adalah putra bangsa. Begitu pula putera daerah.”Dari mana pun dia, suku apa pun dia, agama apa pun dia, kalau dia berbakti, berjuang, berkorban untuk daerah, dia putera daerah. Jangan diartikan sempit, harus suku tertentu, harus lahir di sini, tidak. Dia menjadikan Kutai Kartanegara menjadi rumah Indonesia. Nggak ada sukuisme di sini. Cermin Pancasila di sini, cermin Indonesia di sini,” katanya. Selengkapnya baca: Wawancara: Daerah Kuat, NKRI Kukuh.

Kecerdasan, totalitas pengabdian dan wawasan kebangsaannya membuat Syaukani pantas didambakan untuk memimpin dalam ruang lingkup yang lebih luas, apakah sebagai gubernur,
Menteri atau jabatan yang lebih tinggi. Dia memang seorang Bupati, yang memiliki kapasitas dan wawasan kepemimpinan tingkat nasional. e-ti/Ch.

Robin Simanullang

Sumber:  tokohindonesia.com

Laman: 1 2 3 4

1 Comment
To Top