Peristiwa

Pabrik Tapioka Tingkatkan Ekonomi Rantau Pulung

WARTAKUTIM.com, SANGATTA– Bupati Kutai Timur Ir Ismunandar MT, Selasa (23/8), meresmikan pengoperasian pabrik tapioka berbahan baku singkong gajah, di Desa Kebon Agung, Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur. Pabrik itu dibangun PT Kaltim Prima Coal (KPC) melalui alokasi dana Forum Multi Stakeholders for Corporate Social Responsibility (MSH CSR) tahun 2015 lalu.

Pabrik dengan kapasitas lima ton per jam tersebut, mulai dibangun pada awal Desember 2015 lalu dan selesai pada Juni 2016. Pembangunan pabrik itu menelan biaya Rp 1,25 miliar lebih. Hingga saat ini pabrik tersebut sudah menghasilkan 163 ton tepung tapioka untuk dijual ke wilayah Kaltim.

Bupati Kutai Timur Ismunandar mengatakan, pengoperasian pabrik tapioka itu bisa menjadi alternatif penghasilan masyarakat di Rantau Pulung, selain kelapa sawit. “Kalau kelapa sawit kan sudah ada. Nah sekarang tinggal singkong gajah ini sebagai alternatifnya. Ibaratnya, kalau terjadi kegagalan dengan sawit, ya masih ada singkong sebagai penyangga,” ujar Ismu usai meresmikan pabrik tersebut di Desa Kebon Angung, Selasa (23/8).

Ismu meyakini, singkong gajah bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Kutai Timur, sebab bisa menyerap tenaga kerja yang banyak. Selain itu, teknik budidayanya cukup sederhana sehingga semua petani bisa menanam singkong tersebut.

Ismu memuji bentuk kolaborasi pengembangan singkong di Rantau Pulung yang melibatkan enam desa melalui Bada Koordinasi Desa (BKD), Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), pemerintah kecamatan, pihak swasta selaku pengelola dan dukungan KPC sebagai katalisator pembangunan di Kutai Timur.

General Manager External Affairs and Sustainable Development (GM ESD) KPC Wawan Setiawan mengatakan, pembangunan pabrik tapioka dan pengembangan singkong gajah merupakan usulan dari enam desa di Rantau Pulung. “Ada enam desa yang mengusulkan melihat potensi yang ada di Rantau Pulung. Saat ini sudah ada ada 280 hektar lahan telah ditanami singkong gajah,” kata Wawan.

Meski kapasitas pabrik yang ada mencapai lima ton per jam, namun menurut Wawan efektifnya hanya berjalan dua ton tepung karena masih terkendala lantai jemur yang maisih terbatas. Sementara untuk target produksi per bulan adalah 100 ton tepung tapioka.

Operasional pabrik saat ini telah berjalan setiap hari dengan dukungan puluhan tenaga kerja dari sekitar desa tersebut. Dwi, salah seorang penaga pengupas kulit singkong mengaku, satu hari bisa mengupas singkong antara 500 sampai 600 kilogram. “Satu hari hasilnya antara 500 sampai 600 kilogram singkong. Satu kilogram kami dibayar Rp 100 rupiah,” ujar Dwi.

“Sebelum kerja di sini, kami hanya di rumah saja. Meskipun hasil kupas singkong ini tidak terlalu banyak, tapi paling tidak kami sudah ada penghasilan tetap setiap bulan,” ujar Rosmawati, salah seong pengupas singkong lainnya.

Bupati Kutai Timur Ismunandar mengatakan, pengembangan singkong di desa itu sangat cocok dengan program pemerintah yang menekankan pembangunan dari desa. “Kami memang ingin fokus membangun dari desa. Jika desa sejahtera maka secara otomatis kecamatan juga sejahtera dan tentu saja kabupaten jadi sejahtera,” kata Ismu.(*)

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: