Ragam

Warga Desa Tepian Langsat Akan Hibahkan Lahannya Jika Dibangunkan Tower Telekomunikasi

Rusman Kaming, warga desa Tepian langsat, akan menghibahkan lahannya, jika mau operator seluller dan pemerintah mau membangun tower telekomunikasi

WARTAKUTIM.com,SANGATTA — Meskipun teknologi semakin cangkih saat ini, namun ternyata tidak sepenuhnya masyarakat menikmatinya. Buktinya, warga desa Tepian Langsat Kecematan Bengalon Kutai Timur, salah satunya yang hingga kini masih kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat luar.

Desa yang berjarak sekitar kurang lebih 25 kilometer dari ibukota kecamatan Bengalon dan berpenduduk sekitar 100 jiwa ini, tidak ada satupun dijumpai tower telekomunikasi. ditambah lagi dengan sulitnya medan jika kondisi hujan turun akses jalan kesana mungkin hanya bisa dilewati dan dilintasi oleh kendaraan tertentu, seperti mobil double cabin.

Rusmin Kuming, salah seorang warga Rt.05 desa Tepian Langsat mengatakan, untuk mendapatkan jaringan komunikasi, dia harus menuju gunung yang jaraknya sekitar 2km  hingga 3 km., itupun sinyal yang di dapatkan tidak terlalu bagus terkadang sinyal yang didapatkan hanya 1-2 bar.

“Hampir setiap warga yang ada disini (Tepian Langsat) memiliki Handphone. Namun, kami hanya bisa menggunakan handphone disaat naik gunung, itupun sinyalnya hanya 1-2 batang saja atau ke Bengalon baru bisa dapat sinyal bagus,”kata Rusmin, saat ditemui dikediamannya, Minggu (4/9)

Lebih lanjut dia menambahkan, jika ada pihak keluarga yang berada luar wilayah desa Tepian Langsat ingin menyampaikan hal penting atau emergency sangat lambat untuk diketahui secara langsung karena keterbatasnya jaringan telekomunikasi.

“Kalau keluarga yang di ada Bengalon atau di Sangatta sangat sulit menghubungi kami. Makanya, mereka biasanya SMS saja, ketika kami naik gunung baru pesannya masuk ke Handphone kami,”tututnya.

Warga lainnya Satriadi mengakui, pihaknya sudah pernah berkomunikasi dengan aparat desa untuk pengadaan tower telekomunikasi. Bahkan ia pernah mengusulkan hal itu ke salah satu operator seluller dan pemerintah daerah, sampai saat ini belum mendapat tanggapan.

“Sudah pernah kami usulkan sekitar 2-3 tahun lalu di telkomsel yang ada di Sangatta dan pemerintah. Bahkan waktu kami mengusulkan proposal dilampirkan foto 30 hp warga ,”katanya.

Dikatakannya, masyarakat menyadari, kemajuan teknologi saat ini terutama akses sinyal komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Apalagi daerah tersebut salah satu desa tertua di Kutim yang usianya sudah mencapai 100  tahun lebih.

“Dari cerita nenek saya, desa kami ini sudah berdiri sejak jaman colonial belanda tahun 1917. Desa kami ini adalah salah satu daerah tertua di Kutim, namun belum bisa mendapatkan akses jaringan telekomunikasi,”katannya.

Dia berharap, pemkab dan operator seluller bisa mengadakan tower jaringan telekomunikasi di desanya. Untuk pengadaan tower, kata dia, warga akan mempermudah untuk operator seluller dan pemerintah di bangun di desanya. Bahkan warga siap menghibahkan lahannya agar dapat dibangun tower.

“Om Kaming dan warga disini siap menghibahkan lahannya, jika ada operator atau pemerintah membangun tower komunikasi di desa kami, selain itu kami juga siap untuk menjaganya dan merawatnya jika di minta,”kata pemuda ini.

(wal)

Click to comment
To Top
%d blogger menyukai ini: