Hukum Dan Kriminal

Pelaku Pencabulan Remaja Di Teluk Pandan Di Hukum 14 Tahun Penjara

Ilustrasi

SANGATTA.  Latif bin Abdul Muthalib, warga Teluk Pandan Kecamatan Teluk Pandan,  yang selam 8 tahun ‘memakai’ anaknya sebut saja Mawar (15), hanya tertunduk malu mendengar putusan Majelis  Hakim Rabu (7/9) siang, dimana dirinya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara,  karena dinyatakan bersalah melakukan perkosaan terhadap anak kandungnya selama 8 tahun. Hal yang memberatkan, karena perbuatan Latif dinilai tidak pantas sebagai orang tua yang seharusnya menjadi pelidung Mawar sebagai anak kandungnya, namun justru menyetubuhi anaknya dengan ancaman secara rutin.

Karena itu, Majelis Hakim diketuai Jarihat Simarmata, yang tak lain ketua PN Sangatta, dengan anggota Nurachmat dan Andreas Pungky Maradona, menyatakan perbuatan terdakwa tak pantas, apalagi perbuatan dilakukan terdakwa, pertaman saat mawar masih duduk dikelas III SD, hingga Mawar menginjakkan kaki di SMU.  “Perbuatan terdakwa melanggar UU Perlindungan anak sebagiman dalam dakwaan JPU pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana 15 tahun penjara. Hal yang memberatkan, selama  persidangan, terbukti terdakwa Latif telah melakukan perkosaan kepada korban sejak korban sekolah di SD hingga  korban masuk SLTA. Terdakwa sebagai orang tua, seharusnya melindungi korban, namun justru korban dijadikan pelampiasan nabsu sek setiap saat,” jelas hakim dalam putusanya.

Putusan ini sama dengan tuntutan JPU Andi Aulia Rahman. Terhadap vonis majelis hakim yang tergolong tinggi bagi pemerkosa anak di bawah umur, diterima JPU Andi Aulia Rahman sementara Latif yang mengenakan rompi merah dan celana pendek hanya terdiam tanpa memberikan komentar apakah menerima putusan hakim atau tidak.

“Pikirkan aja dulu ya, menerima atau tidak nanti segera disampaikan kepada pengadilan,” kata Jarihat sebelum menutup sidang.

Seperti diketahui, kasus pemerkosaan selama beberapa tahun ini, dilaporkan Mawar ke Polisi, Jumat (8/4), bersama sang pacar. Mawar menceritakan apa yang ia alami sejak SD hingga bersekolah di SLTA. “Hampir setiap pekan saya melayani nafsu ayah, peristiwa pertama terjadi ketika saya sekolah di SD hingga delapan tahun,” kata Mawar.

Dalam persidangan pun korban  yang tanpak ketakutan melihat tersangka dan ibunya, mengakui jika jika dalam seminggi, selam 8 tahun setidaknya harus melayani ayahnya hingga 2-3 kali. Setalah melayani ayahnya, dia diancam agar tidak ngomong pada siapapun, karena itu korban bngkam selam bertahun-tahun menerima perbuatan tidak pantas dari ayahnya.

Namun kasus ini terungkap, karena korban yang sudah remaja, kemudian memilih lari ke Balikpapan, menghindari kebuatan Latif. Dengan bujukan sang pacar, korban kembali, sekaligus curhat pada pacarnya.  Karena itu, dengan didampingi pacarnya, korban melapor ke pospol Telukpandan, (8/4) sehingga Latif dibekuk untuk mempertanggunjawabkan perbuatannya.(ima)

Click to comment
To Top