Berita Foto

Aksi Damai Mahasiswa

Tolak Pabrik Semen, Puluhan Aktivis Gelar Aksi Galang Tanda Tangan

WARTAKUTIM.com. SANGATTA – Aksi penolakan pembangunan pabrik semen di wilayah karst Sekerat Kutai Timur, terus berlanjut. Kali ini puluhan aktivis dari Gerakan Satu Bumi bergerak dengan menggalang tanda tangan masyarakat Kutim.

Aksi jalan ini yang di mulai digelar pada pukul 08.30 wita hingga 09.30 wita di simpang tiga Jalan AW Syahrani (eks Pendidikan) – Yos Sudarso dan mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polres Kutim.

Koordinator aksi Harry mengatakan, aksi damai ini dilakukan untuk menyuarakan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat jika kawasan karst tambang oleh pabrik semen.

“Kami secara tegas menolak keberadaan pabrik semen di kawasan kasrt. Tujuan kami melakukan aksi ini sebagai kampanye kepada masyarakat tentang betapa pentingnya kasrt untuk kepentingan masyarakat,”ungkap Harry.

Lebih lanjut Ia menambahkan, diharapkan dengan adanya aksi damai ini masyarakat dapat lebih memahami pentingnya karst untuk kehidupan manusia dan ekosisten yang ada pada kawasan kasrt tersebut.

“Di Aksi kami ini tidak hanya membubuhkan tanda tangan untuk meminta dukungkan kepada masyarakat. Tetapi, Kami juga membagikan informasi kepada masyarakat tentang karst agar masyarakat lebih peduli terhadap karst yang di miliki Kutim,”terangnya.

Dijelaskan, Karst memiliki perang penting untuk kelangsungan hidup manusia. Apalagi karst mengandung serapan air yang tak terhingga sehingga dapat menopang kehidupan mahluk hidup yang ada di wilayah kawasan karst.

“Karst sebagai pendukung serapan air. Berbicara soal air sebagai sumber kehidupan, kita berbicara kemanusian. Air dapat disana dapat di manfaatkan untuk pertanian, peternakan dan sebagainya.,”jelasnya.

Disadari kata Harry, jika pabrik semen didirikan akan akan membuka lapangan pekerjaan. Namun, masyarakat akan hilang mata pencahariannya. Tak dapat dipungkiti sebagai masyarakat memamfaatkan air dari karst untuk pertanian, perkebunan dan peternakan.

Selain itu, kata dia, hutan yang ada dan selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menopang kehidupan akan hilang akibat aktivitas tambang Semen diwilayah karst.

Lebih jauh dia mengatakan, gerakan ini sudah dimulai dilakukan sejak Kamis (27/10/2016) malam dan sudah mendapat dukungan dari ratusan masyarakat Kutim dengan membubuhkan bertanda tangan diatas spanduk putih berukuran sekitar 3 meter. “Aksi ini akan tetap terus berlanjut, Pangkasnya  (IA)

Click to comment
To Top